Kebudayaan
Dilihat dari pengertian dari “Kebudayaan” dan “Peradaban”
secara umum maka keduanya adalah hampir mirip akan tetapi sebenarnya
memiliki makna yang berbeda. Kebudayaan melahirkan peradaban dan
peradaban lahir dari kebudayaan, dan tidak ada manusia yang tidak
berbudaya karena tidak ada manusia yang hidup sendirian. Dari karena
itulah maka sekelompok manusia yang membentuk masyarakat pasti
melahirkan sebuah kebudayaan yang berkembang menjadi peradaban.
Kata ”kebudayaan” berasal dari (bahasa
Sansekerta) buddayah yang merupakan bentuk jamak dari kata “budhi” yang
berarti budi atau akal. Kebudayaan diartikan sebagai “hal-hal yang
bersangkutan dengan budi atau akal”. Menurut Koentjaraningrat,
kebudayaan adalah keseluruhan manusia dari kelakuan dan hasil yang harus
didapatkannya dengan belajar, dan semua itu tersusun dalam kehidupan
masyarakat.
Senada dengan Koentjaraningrat adalah
apa yang didefinisikan oleh Selo Soemardjan dan Soelaeman Soenardi,
dalam bukunya Setangkai Bunga Sosiologi (Jakarta:Yayasan Badan Penerbit
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1964), hal 113, merumuskan
kebudayaan sebagai semua hasil karya, cipta, dan rasa masyarakat. Karya
masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan atau
kebudayaan jasmaniah (material culture) yang diperlukan oleh manusia
untuk menguasai alam sekitarnya agar kekuatan serta hasilnya dapat
diabdikan untuk keperluan masyarakat.
“Kebudayaan” dalam bahasa Inggris
disebut culture. Sebuah istilah yang relatif baru karena istilah
‘culture’ sendiri dalam bahasa Inggris baru muncul pada pertengahan abad
ke-19. Sebelum tahun 1843 para ahli anthropologi memberi arti
kebudayaan sebagai cara mengolah tanah, usaha bercocok tanam,
sebagaimana tercermin dalam istilah agriculture dan holticulture.
Hal ini dapat dimengerti karena istilah
culture berasal dari bahasa Latin colere yang berarti pemeliharaan,
pengolahan tanah pertanian. Dalam arti kiasan kata itu juga diberi arti
“pembentukan dan pemurnian jiwa”.
Seorang antropolog lain, E.B. Tylor (1871), dalam bukunya yang berjudul Primitive Culture (New York; Brentano’s, 1924), hal 1, pernah mencoba memberikan definisi mengenai kebudayaan sebagai yaitu; “Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggot masyarakat”.
Seorang antropolog lain, E.B. Tylor (1871), dalam bukunya yang berjudul Primitive Culture (New York; Brentano’s, 1924), hal 1, pernah mencoba memberikan definisi mengenai kebudayaan sebagai yaitu; “Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggot masyarakat”.
Unsur-Unsur Kebudayaan
Unsur-unsur kebudayaan digolongkan
kepada unsur besar dan unsur kecil yang lazimnya disebut dengan istilah
culture universal karena di setiap penjuru dunia manapun kebudayaan
tersebut dapat ditemukan seperti pakaian, tempat tinggal dan lain
sebagainya. Beberapa orang sarjana telah mencoba merumuskan unsur-unsur
pokok kebudayaan. Seperti Melville J. Herskovits, Bronislaw Malinowski,
C. Kluckhohn dan Prof. Koentjaraningrat.
Melville J. Herskovitz menyebutkan ada empat unsur pokok kebudayaan, yaitu:
Alat-alat teknologi,
Sistem ekonomi
Keluarga, dan
Kekuasaan politik.
Alat-alat teknologi,
Sistem ekonomi
Keluarga, dan
Kekuasaan politik.
Bronislaw Malinowski menyatakan ada empat unsur pokok kebudayaan yang meliputi:
- Sistem normma-norma yang memungkinkan kerja sama antar para anggota masyarakat agar menyesuaikan dengan alam sekelilingnya,
- Organisasi ekonomi
- Alat dan lembaga atau petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama), dan
- Organisasi kekuatan (politik).
Kliucckhohn menyebutkan ada tujuh unsur kebudayan, yaitu:
- Sistem mata pencaharian hidup,
- Sistem peralatan dan teknologi,
- Sistem organisasi kemasyarakatan,
- Sistem pengetahuan,
- Bahasa,
- Kesenian, dan
- Sistem religi dan upacara keagamaan.
Sifat Hakikat Kebudayaan
Sifat hakikat kebudayaan adalah
ciri-ciri khusus dari sebuah kebudayaan yang masing-masing masyarakat
berbeda. Bagi masyarakat Barat makan sambil berjalan bahkan setengah
berlari adalah biasa karena bagi mereka the time is money, berbeda
dengan masyarakat Timur, jangankan makan sambil berjalan, makan berdiri
saja sudah melanggar etika. ????? ????? ????? ?? (janganlah salah
seorang dari kamu minum dalam keadaan berdiri). Namun, secara garis
besar, seluruh kebudayaan yang ada di dunia ini memiliki sifat-sifat
hakikat yang sama.
Sifat-sifat hakikat kebudayaan adalah sebagai berikut:
• Kebudayaan terwujud dan tersalurkan lewat prilaku manusia.
• Kebudayaan telah ada terlebih dahulu mendahului lahirnya suatu generasi tertentu dan tidak akan mati dengan habisnya usia generasi yang bersangkutan.
• Kebudayaan diperlukan oleh manusia dan diwujudkan tingkah lakunya.
• Kebudayaan mencakup aturan-aturan yang berisikan kewajiban-kewajiban, tindakan-tindakan yang diterima dan ditolak, tindakan-tindakan yang dilarang dan tindakan-tindakan yang diizinkan.
• Kebudayaan terwujud dan tersalurkan lewat prilaku manusia.
• Kebudayaan telah ada terlebih dahulu mendahului lahirnya suatu generasi tertentu dan tidak akan mati dengan habisnya usia generasi yang bersangkutan.
• Kebudayaan diperlukan oleh manusia dan diwujudkan tingkah lakunya.
• Kebudayaan mencakup aturan-aturan yang berisikan kewajiban-kewajiban, tindakan-tindakan yang diterima dan ditolak, tindakan-tindakan yang dilarang dan tindakan-tindakan yang diizinkan.
Akulturasi Kebudayaan
Semua kebudayaan senantiasa bergerak
karena ia dinamis karena sebaenarnya gerak kebudayaan adalah gerak
manusia itu sendiri. Gerak atau dinamika manusia sesama manusia, atau
dari satu daerah kebudayaan ke daerah lain, baik disengaja atau tidak
seperti migrasi atau pengungsian dengan sebab-sebab tertentu. Dinamika
ini membawa kebudayaan dari suatu masyarakat ke masyarakat lain yang
menyebabkan terjadinya akulturasi.
Proses akulturasi kebudayaan dalam
sejarah umat manusia telah terjadi pada umat atau bangsa-bangsa
terdahulu. Adakalanya kebudayaan yang dibawa dapat dengan mudah diterima
oleh masyarakat setempat dan adakalanya ditolak, bahkan ada sekelompok
individu yang tetap tidak menerima kebudayaan asing walaupun mayoritas
kelompok individu di sekelilingnya sudah menjadikan kebudayaan tersebut
bagian dari kebudayaannya.
Pada umumnya unsur-unsur kebudayaan asing yang mudah diterima adalah:
o Unsur kebudayaan kebendaan seperti alat-peralatan yang terutama sangat mudah dipakai dan dirasakan sangat bermanfaat bagi masyarakat yang menerimanya, contohnya adalah alat tulis-menulis yang banyak dipergunakan orang Indonesia yang diambil dari unsur-unsur kebudayaan Barat,
o Unsur-unsur yang terbukti membawa manfaat besar misalnya radio transistor yang banyak membawa kegunaan terutama sebagai alat mass-media,
o Unsur-unsur yang dengan mudah disesuaikan dengan keadaan masyarakat yang menerima unsur-unsur tersebut, seperti mesin penggiling padi yang dengan biaya murah serta pengetahuan teknis yang sederhana, dapat digunakan untuk melengkapi pabrik-pabrik penggilingan.
o Unsur kebudayaan kebendaan seperti alat-peralatan yang terutama sangat mudah dipakai dan dirasakan sangat bermanfaat bagi masyarakat yang menerimanya, contohnya adalah alat tulis-menulis yang banyak dipergunakan orang Indonesia yang diambil dari unsur-unsur kebudayaan Barat,
o Unsur-unsur yang terbukti membawa manfaat besar misalnya radio transistor yang banyak membawa kegunaan terutama sebagai alat mass-media,
o Unsur-unsur yang dengan mudah disesuaikan dengan keadaan masyarakat yang menerima unsur-unsur tersebut, seperti mesin penggiling padi yang dengan biaya murah serta pengetahuan teknis yang sederhana, dapat digunakan untuk melengkapi pabrik-pabrik penggilingan.
Unsur-unsur kebudayaan yang sulit diterima oleh suatu masyarakat adalah misalnya:
Unsur yang menyangkut sistem kepercayaan seperti ideologi, falsafah hidup dan lain-lain,
Unsur-unsur yang dipelajari pada taraf pertama proses sosialisasi. Contoh yang paling mudah adalah soal makanan pokok suatu masyarakat. Nasi sebagai makanan pokok sebagian besar msayarakat Indonesia sukar sekali diubah dengan makanan pokok yang lain.
Unsur yang menyangkut sistem kepercayaan seperti ideologi, falsafah hidup dan lain-lain,
Unsur-unsur yang dipelajari pada taraf pertama proses sosialisasi. Contoh yang paling mudah adalah soal makanan pokok suatu masyarakat. Nasi sebagai makanan pokok sebagian besar msayarakat Indonesia sukar sekali diubah dengan makanan pokok yang lain.
Peradaban
Adapun istilah “peradaban” dalam bahasa
Inggris disebut civilization. Istilah peradaban ini sering dipakai untuk
menunjukkan pendapat dan penilaian kita terhadap perkembangan
kebudayaan. Pada waktu perkembangan kebudayaan mencapai puncaknya yang
berwujud unsur-unsur budaya yang halus, indah, tinggi, sopan, luhur, dan
sebagainya, maka masyarakat pemilik kebudayaan tersebut dikatakan telah
memiliki peradaban yang tinggi.
Seperti yang diungkapkan Arnold Toynbee
“The Disintegrations of Civilization” dalam Theories of Society, (New
York, The Free Press, 1965), hal. 1355, peradaban adalah kebudayaan yang
telah mencapai taraf perkembangan teknologi yang sudah lebih tinggi.
Pengertian yang lain menyebutkan bahwa peradaban adalah kumpulan seluruh hasil budi daya manusia, yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, baik fisik (misalnya bangunan, jalan), maupun non-fisik (nilai-nilai, tatanan, seni budaya, maupun iptek).
Pengertian yang lain menyebutkan bahwa peradaban adalah kumpulan seluruh hasil budi daya manusia, yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, baik fisik (misalnya bangunan, jalan), maupun non-fisik (nilai-nilai, tatanan, seni budaya, maupun iptek).
Huntington memberi definisi bahwa
peradaban adalah sebuah identitas terluas dari budaya, yang
teridentifikasi melalui unsur-unsur obyektif umum, seperti bahasa,
sejarah, agama, kebiasaan, institusi, maupun melalui identifikasi diri
yang subyektif. Berangkat dari definisi ini, maka masyarakat Amerika
–khususnya Amerika Serikat- dan Eropa yang sejauh ini disatukan oleh
bahas, budaya dan agama dapat diklasifikasikan sebagai satu peradaban,
yakni peradaban barat.
Lebih lanjut Huntington menyatakan bahwa
term “Barat”, secara universal, digunakan untuk menunjuk pada apa yang
disebut dunia Kristen Barat. Dengan demikian, “Barat” merupakan sebuah
peradaban yang dipandang sebagai “penunjuk arah” dan tidak diidentikkan
dengan nama orang-orang tertentu, agama, atau wilayah geografis. Akan
tetapi pengidentifikasian ini mengangkat peradaban dari historitas,
wilayah geografis, dan konteks kulturalnya. Secra historis, peradaban
Barat adalah peradaban Eropa, namun di era modern ini yang dimaksud
dengan peradaban Barat adalah peradaban Eroamerika (Euroamerican) atau
Atlantik Utara.
Mengenai pertentangan antara budaya
Barat dan budaya Timur, Kun Maryati dan Juju Suryawaty menagatakan:
“Dalam masyarakat dunia, ada pandangan yang menganggap budaya Barat
sebagai budaya progresif atau maju yang sarat dengan kedinamisan (hot
culture). Sebaliknya, budaya Timur diidentikkan dengan budaya yang
dingin dan kurang dinamis (cold culture). Pertentangan ini cenderung
Eropa-sentris sehingga mengakibatkan westernisasi di berbagai bidang
kehidupan”.
Sebelum adanya peradaban Eroamerika yang
menguasai dunia peradaban sekarang ini sudah barang tentu terlebih
dahulu sudah ada peradaban yang disebut dengan peradaban dunia; kuno
atau klasik pra-Islam. Di antara peradaban-peradaban itu adalah:
1. Peradaban Irak, di antara peradaban yang terpenting adalah Sumeria, Akkadia, Ayalamiyah, Babilonia, Asyuriah, dan Kaldaniah
2. Peradaban Syam, di antara peradaban yang terpenting adalah Amuriyah, Vinikia, Kan’an,. Aramiyah, Anbath, Tadmur, Ghassan, dan Munazarah
3. Peradaban Mesir, peradaban yang terpenting adalah peradabaan Fir’aun dan peradaban Heksus
4. Peradaban Yaman, di antaranya Ma’in, Saba’, Himyar, dan Qatban.
5. Peradaban Persia
6. Peradaban Yunani dan Romawi
2. Peradaban Syam, di antara peradaban yang terpenting adalah Amuriyah, Vinikia, Kan’an,. Aramiyah, Anbath, Tadmur, Ghassan, dan Munazarah
3. Peradaban Mesir, peradaban yang terpenting adalah peradabaan Fir’aun dan peradaban Heksus
4. Peradaban Yaman, di antaranya Ma’in, Saba’, Himyar, dan Qatban.
5. Peradaban Persia
6. Peradaban Yunani dan Romawi
Peradaban Fir’aun dan Sumeria adalah dua
peradaban paling awal yang ada dalam sejarah manusia. Demikian yang
dikatakan H.J Wills dalam Short History of the World halaman 62.
Dari beberapa pengertian “kebudayaan”
dan “peradaban” tersebut di atas tampak sekali terdapat perbedaan di
antara keduanya. Di sini pemikiran yang lebih jelas tentang perbedaan
“kebudayaan” dan “peradaban” dapat dijumpai dalam filosof mazhab Jerman,
seperti Edward Spranger yang mengartikan “kebudayaan” sebagai segala
bentuk atau ekspresi dari kehidupan batin masyarakat. Sedangkan
peradaban ialah perwujudan kemajuan teknologi dan pola material
kehidupannya.
Dengan demikian, maka sebuah bangunan
yang indah sebagai karya arsitektur mempunyai dua dimensi yang saling
melengkapi: dimensi seni dan falsafahnya berakar pada kebudayaan,
sedangkan kecanggihan penggunaan material dan pengolahannya merupakan
hasil peradaban. Dengan kata lain, kebudayaan ialah apa yang kita
dambakan, sedangkan peradaban ialah apa yang kita pergunakan. Kebudayaan
tercermin dalam seni, bahasa, sastra, aliran pemikiran, falsafah dan
agama, bentuk-bentuk spritualitas dan moral yang dicita-citakan,
falsafah dan ilmu-ilmu teoritis. Peradaban tercermin dalam politik
praktis, ekonomi, teknologi, ilmu-ilmu terapan, sopan santun pergaulan,
pelaksanaan hukum dan undang-undang.
Sejalan dengan pemikiran Spranger ini
adalah Effat al-Syarqawi yanhg mengartikan “kebudayaan” sebagai khazanah
sejarah suatu bangsa/masyarakat yang tercermin dalam
pengakuan/kesaksiannya dan nilai-nilainya, yaitu kesaksian dan
nilai-nilai yang menggariskan bagi kehidupan suatu tujuan ideal dan
makna rohaniah yang dalaam, bebas dari kontradiksi ruang dan waktu.
Dengan kata lain, “kebudayaan” adalah struktur intuitif yang mengandung
nilai-nilai rohaniah tertinggi, yang menggerakkan suatu masyarakat
melalui falsafah hidup, wawasan moral, citarasa estetik, cara berpikir,
pandangan dunia (weltanschaung) dan sistem nilai-nilai.
Adapun “peradaban” ialah khazanah
pengetahuan terapan yang dimaksudkan untuk mengangkat dan meninggikan
manusia agar tidak menyerah terhadap kondisi-kondisi di sekitarnya. Di
sini ‘peradaban’ meliputi semua pengalaman praktis yang diwarisi dari
satu generasi ke generasi lain. Peradaban tampak dalam bidang fisika,
kimia, kedokteran, astronomi, ekonomi, politik praktis, fiqih mu’amalah,
dan semua yang berkaitan dengan penggunaan ilmu terapan dan teknologi.
Peradaban Islam
Kaitannya dengan pengertian-pengertian
tersebut di atas, maka yang dimaksud dengan “peradaban Islam”, menurut
Muhammad Husein Abdullah, adalah “sekumpulan pandangan tentang kehidupan
menurut sudut pandang Islam”. Pengertian yang lain menyebutkan bahwa
“peradaban Islam” adalah peradaban orang-orang Muslim atau peradaban
manusia yang diilhami, dilandasi oleh keyakinan Islam. Atau dengan
pengertian yang lain, “peradaban Islam” adalah pencapaian hasil budi
kaum muslimin dalam sejarah.
Adapun yang menjadi orientasi kebudayaan
di dunia Islam adalah perbedaan antara alam kosmis, transendental,
tatanan keduniaan, serta kemungkinan untuk mengatasi ketegangan yang
inheren dalam perbedaan ini berdasarkan ketaatan sepenuhnya pada Tuhan
dan kegiatan keduniaan –terutama sekali, kegiatan politik dan militer;
unsur universirtas yang kuat dalam definisi tentang komunitas Islam;
pemberian akses otonom bagi seluruh warga komunitas untuk memperoleh
atribut-atribut tatanan transendental dean keselamatan (salvation)
melaljui ketaatan terhadap Tuhan; cita-cita ummah, komunitas
politik-keagamaan dari setiap pemeluknya, dan gambaran mengenai penguasa
sebagai penegak cita-cita Islam, mengenai kemurnian ummah, dan
kehidupan komunitas.
Berangkat dari pengertian “peradaban
Islam” di atas maka berbeda dengan Islam yang skaral, tetap dan abadi,
peradaban Islam betapapun besar dan hebatnya, adalah bersifat profan,
berkembang dan tidaklah suci. Peradaban Islam, tetaplah seperti
peradaban lain, yakni tidak bebas dari kelemahan.
Hal tersebut dapat dibuktikan ketika
kita flashback ke masa lalu, di mana Nabi Muhammad saw. Mampu menyusun
kekuatan baru untuk melakukan reformasi peradaban secara total mulai
dari ideologi, teologi, sampai kepada kultural dan hasilnya sangat
mengesankan. Kemudian usaha Beliau itu dilanjutkan oleh para penguasa
Muslim melalui fondasi banguan teologi yang kokoh, penguasaan dan
pengembangan sains atas dasar semangat iqra’ dan amal shaleh. Atas dasar
itu, sejarah dan khazanah kita di masa lampau –terutama sejak
pemerintahan Nabi Muhammad saw.di Madinah hingga tahun 1250 M yang
ditandai dengan berakhirnya masa kejayaan Spanyol Islam di daratan
Eropa- umat Islam mampu mewujudkan suatu tatanan masyarakat yang
berperadaban tinggi.
Namun demikian, seiring dengan pasang
surutnya sebuah peradaban, peradaban Islam pun pernah mengalami
masa-masa kejayaan meskipun kemudian mengalami masa kemunduran. Jika
pada zaman Abbasiyah umat Islam mampu menjadi sumber ilmu pengetahuan
serta menjadi kiblat dunia , termasuk Barat, maka saat ini umat Islam
hanya menjadi konsumen dari ilmu pengetahuan dan teknologi yang
dikembangkan masyarakat Barat. Peradaban Baratlah yang saat ini
memberikan kontribusi besar bagi kehidupan manusia secara umum dan
bahkan cenderung menghegemoni peradaban lainnya, termasuk Islam.
Pendidikan Islam
Wahyu pertama yang turun kepada Nabi
Muhammad saw. adalah surah Al-‘Alaq 1-5 dan wahyu yang kedua adalah
surah Al-Muddatsir 1-7. Menurut Prof. Dr. H. Mahmud Yunus, dalam kedua
wahyu yang mula-mula turun itu dapat diambil kesimpulan, bahwa
pendidikan dalam Islam terdiri dari empat macam:
1) Pendidikan keagamaan, yaitu hendaklah
membaca dengan nama Allah semata-mata, jangan dipersekutukan dengan
nama berhala, karena Tuhan itu Mahabesar dab Mahapemurah; sebab itu
hendaklah dienyahkan berhala itu sejauh-jauhnya.
2) Pendidikan ‘akliyah dan ilmiyah, yaitu mempelajari kejadian manusia dari segumpal darah dan kejadian alam semesta. Alam akan mengajarkan demikian itu kepada orang-orang yang mau menyelidiki dan membasnya, sedangkan mereka dahulu belum mengetahuinya.untuk mempelajari hal-hal itu haruslah dengan banyak membaca dan menyelidiki serta memakai pena untuk mencatat
3) Pendidikan akhlak dan budi pekerti, yaitu si pendidik hendaklah suka memberi/mengajar tanpa mengharapkan balasan dari orang yang menerima pemberian itu, melainkan karena Allah semata-mata dan mengharapkan keridaanNya. Bagitu juga si pendidik harus berhati sabar dan tabah dalam melakukan tugasnya.
4) Pendidikan jasmani (kesehatan), yaitu mementingkan kebersihan, bersih pakaian, bersih badan dan bersih tempat kediaman. Terutama si pendidik harus bersih pakaian, suci hati dan baik budi pekertinya, supaya menjadi contoh dan tiru teladan bagi anak-anak didikannya.
2) Pendidikan ‘akliyah dan ilmiyah, yaitu mempelajari kejadian manusia dari segumpal darah dan kejadian alam semesta. Alam akan mengajarkan demikian itu kepada orang-orang yang mau menyelidiki dan membasnya, sedangkan mereka dahulu belum mengetahuinya.untuk mempelajari hal-hal itu haruslah dengan banyak membaca dan menyelidiki serta memakai pena untuk mencatat
3) Pendidikan akhlak dan budi pekerti, yaitu si pendidik hendaklah suka memberi/mengajar tanpa mengharapkan balasan dari orang yang menerima pemberian itu, melainkan karena Allah semata-mata dan mengharapkan keridaanNya. Bagitu juga si pendidik harus berhati sabar dan tabah dalam melakukan tugasnya.
4) Pendidikan jasmani (kesehatan), yaitu mementingkan kebersihan, bersih pakaian, bersih badan dan bersih tempat kediaman. Terutama si pendidik harus bersih pakaian, suci hati dan baik budi pekertinya, supaya menjadi contoh dan tiru teladan bagi anak-anak didikannya.
Komponen-Komponen Pendidikan
Ada asumsi yang mengatakan bahwa gurulah
yang paling bertanggung jawab terhadap keberhasilan peserta didik, guru
yang profesional akan menelorkan murid yang profesional juga sebaliknya
guru yang bukan profesional akan menjejaskan keberhasilan anak didik.
Sementara asumsi lain mengatakan bahwa peran serta orang tua sangat
dominan, orang tua yang perhatian terhadap pendidikan anaknya dan selalu
memberikan bimbingan sangat besar kemungkinankberhasilan anaknya.
Adapula yang mengatakan miliu sengat berpengaruh terhadap peserta didik,
miliu pedagang mencerdaskan ilmu pasti seperti aritmatika sosial dan
ekonomi. Menurut Rosleny Marliany, ada sembilan komponen yang sangat
penting dan wajib ada dalam pendidikan, yaitu:
1) Para pendidik;
2) Para murid atau anak didik;
3) Materi pendidikan;
4) Perbuatan mendidik;
5) Metode pendidikan;
6) Evaluasi pendidikan;
7) Tujuan pendidikan;
8) Alat-alat pendidikan;
9) Lingkungan pendidikan.
2) Para murid atau anak didik;
3) Materi pendidikan;
4) Perbuatan mendidik;
5) Metode pendidikan;
6) Evaluasi pendidikan;
7) Tujuan pendidikan;
8) Alat-alat pendidikan;
9) Lingkungan pendidikan.
Dari sembilan komponen di atas, komponen
yang terakhir adalah objek kita. Lingkungan kondusif bagi peserta didik
adalah lingkungan yang bernuansa pendidikan seperti sistem pondok
pesantren. Keseharian peserta didik diwarnai dengan proses pendidikan 24
jam. Tidak hanya pendidikan kognitif dan psikomotorik tetapi
disempurnakan lagi dengan pendidikan afektif yang lebih menjurus kepada
pendidikan tingkah laku.
Pondok pesantren adalah sebuah kebudayaan dan juga sebuah peradaban, maka lingkungan pesantren adalah lingkungan yang berbudaya dan beradab. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa lembaga-lembaga pendidikan non pesantren juga menerapkan sistem yang sama hanya saja sebatas jam kurikuler dan jam ekstra kurikuler.
Hanya saja budaya dan peradaban di pesantren sangat dipengaruhi oleh letak geografis dan para pengasuhnya sehingga kebudayaan dan peradaban yang ada di pesanten menonjolkan kebudayaan dan peradaban setempat. Tak ayal lagi kalau alumni pesantren Jawa akan membawa kebudayaan Jawa dan mengasimilasikannya dengan budaya di tempatnya.
Pondok pesantren adalah sebuah kebudayaan dan juga sebuah peradaban, maka lingkungan pesantren adalah lingkungan yang berbudaya dan beradab. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa lembaga-lembaga pendidikan non pesantren juga menerapkan sistem yang sama hanya saja sebatas jam kurikuler dan jam ekstra kurikuler.
Hanya saja budaya dan peradaban di pesantren sangat dipengaruhi oleh letak geografis dan para pengasuhnya sehingga kebudayaan dan peradaban yang ada di pesanten menonjolkan kebudayaan dan peradaban setempat. Tak ayal lagi kalau alumni pesantren Jawa akan membawa kebudayaan Jawa dan mengasimilasikannya dengan budaya di tempatnya.
Situasi tertentu seperti ini juga harus
diperhatikan karena pertumbuhan peserta didik akan dipengaruhi oleh
situasi-situasi di mana dan di waktu mana ia berada.
Lebih lanjut, Rosleny Marliany menyebutkan bahwa: Perubahan menyangkut materiil dan struktur fisiologis sanga dipengaruhi oleh aspek-aspek tertentu yang saling berhubungan. Adapaun aspek-aspek yang mempengaruhi pertumbuhan meliputi:
Lebih lanjut, Rosleny Marliany menyebutkan bahwa: Perubahan menyangkut materiil dan struktur fisiologis sanga dipengaruhi oleh aspek-aspek tertentu yang saling berhubungan. Adapaun aspek-aspek yang mempengaruhi pertumbuhan meliputi:
1) Kondisi interaksi kepribadian anak;
2) Usia dan mental anak;
3) Pola-pola pertumbuhan yang dipengaruhi oleh situasi-situasi tertentu;
4) Adaptasi individu dengan lingkungannya.
2) Usia dan mental anak;
3) Pola-pola pertumbuhan yang dipengaruhi oleh situasi-situasi tertentu;
4) Adaptasi individu dengan lingkungannya.
Kesimpulan
1. Kebudayaan adalah hasil cipta, rasa dan karsa manusia dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya yang kompleks yang mencakup pengetahuan, keyakinan,
seni, susila, hukum adat dan setiap kecakapan dan kebiasaan.
2. Peradaban adalah kumpulan sebuah identitas terluas dari seluruh hasil budi daya manusia, yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, baik fisik (misalnya bangunan, jalan), maupun non-fisik (nilai-nilai, tatanan, seni budaya, maupun iptek), yang teridentifikasi melalui unsur-unsur obyektif umum, seperti bahasa, sejarah, agama, kebiasaan, institusi, maupun melalui identifikasi diri yang subyektif.
3. Peradaban Islam adalah pencapaian hasil budi kaum Muslimin dalam sejarah yang diilhami, dilandasi oleh keyakinan Islam.
4. Pendidikan Islam pertama ada empat, yaitu:
*Pendidikan keagamaan
*Pendidikan ‘akliyah dan ilmiyah
*Pendidikan akhlak dan budi pekerti
*Pendidikan jasmani.
2. Peradaban adalah kumpulan sebuah identitas terluas dari seluruh hasil budi daya manusia, yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, baik fisik (misalnya bangunan, jalan), maupun non-fisik (nilai-nilai, tatanan, seni budaya, maupun iptek), yang teridentifikasi melalui unsur-unsur obyektif umum, seperti bahasa, sejarah, agama, kebiasaan, institusi, maupun melalui identifikasi diri yang subyektif.
3. Peradaban Islam adalah pencapaian hasil budi kaum Muslimin dalam sejarah yang diilhami, dilandasi oleh keyakinan Islam.
4. Pendidikan Islam pertama ada empat, yaitu:
*Pendidikan keagamaan
*Pendidikan ‘akliyah dan ilmiyah
*Pendidikan akhlak dan budi pekerti
*Pendidikan jasmani.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar