Minggu, 30 September 2012

Sistem Digital


MATERI TUTORIAL SISTEM DIGITAL

1.   Pengertian Sistem Digital
Sistem digital adalah suatu sistem yang berfungsi untuk mengukur suatu nilai atau besaran yang bersifat tetap atau tidak teratur dalam bentuk diskrit berupa digit – digit atau angka – angka. Misalnya bilangan integer atau pecahan.

2.   Gerbang Logika
Gerbang Logika adalah Suatu rangkaian logika dengan satu keluaran dan satu atau beberapa masukan ; sinyal keluaran hanya terjadi untuk kombinasi– kombinasi sinyal masukan tertentu (logiika 0 atau logika 1).
2.1. Gerbang Dasar
       Gerbang dasar terdiri dari : AND, OR, NOT
A.   AND : Disebut dengan perkalian logika dengan symbol tanda perkalian titik atau dibaca dot.
Simbol Gerbang AND








Truth Table Gerbang AND
A
B
Y = A . B
0
0
0
0
1
0
1
0
0
1
1
1




KET :  Output akan berlogika 1 jika semua inputan berlogika 1 atau output akan berlogika 0 jika salah satu inputan berlogika 0
B.    OR : Disebut dengan penjumlahan logika dengan symbol tanda plus.



Simbol Gerbang OR


A
B
Y = A + B
0
0
0
0
1
1
1
0
1
1
1
1




Truth Table Gerbang OR
KET : Output akan berlogika 1 jika salah satu inputan berlogika 1 atau output akan berlogika 0 jika semua inputan berlogika 0.
C.   NOT : Disebut komplementasi logika atau inversi.




A
Y = A'
0
1
1
0





Truth Table Gerbang NOT

 
 



2.2. Gerbang Turunan
       Gerbang Turunan adalah gerbang logika yang terbentuk dari gerbang dasar.
Gerbang turunan terdiri dari : NAND, NOR, EXOR, EXNOR.
A.   NAND :  Not – And ; AND gate di ikuti oleh sebuah inverter. Artinya melakukan operasi AND atas masukannya dan kemudian melakukan operasi NOT pada hasil operasi AND.





Simbol Gerbang NAND






KET : Output akan berlogika 0 jika semua inputan berlogika 1.
 



 
B.    NOR : NOT – OR ; OR gate di ikuti oleh sebuah inverter. Artinya melakukan operasi AND atas masukannya dan kemudian melakukan operasi NOT pada hasil operasi AND.





Simbol Gerbang NOR
 



KET : Output akan berlogika 1 jika semua inputan berlogika 0.
 








 




C.  



EXOR :  Disebut gerbang logika parity ganjil, output akan berlogika 1 jika inputan berjumlah ganjil.





Simbol Gerbang EXOR
 
 


D.  



EXNOR : Disebut gerbang logika parity genap, output akan berlogika 1 jika inputan berjumlah genap.


Simbol Gerbang EXNOR
 
 



 



3.   Penyederhanaan Rangkaian Logika
3.1. Aljabar Boolean
A.   Hukum Dasar  :
A + 0 = A
A . 0 = 0
A + 1 = 1
A . 1 = A
A + A = A
A . A = A
A + A’ = 1
A + A’ = 0



B.    Hukum Asosiatif :
A + B + C = A + ( B + C )
A . B . C = A . ( B . C )


C.   Hukum Absorsif :
A + AB = A

D.   Hukum Komutatif :
A + B = B + A
A . B = B . A


E.    Hukum Distributif :
A + B = B + A
A . B = B . A


F.    Teorema De Morgan :
( A + B )’ = A’ . B’
( A . B )’ = A’ + B’


Contoh :
Y = AB’C + (ABC)’ = B’ (AC + A’C’)
Y = (A B’ + C)’ = (AB’)’ . C’ = (A’+B ) . C’ = A’C’+BC’
Y = ((A’+C) . (B+D’))’ = (A’+C)’ + (B+D’)’ = (A . C’) + (B’ . D) = AC’ +   B’D


3.2. Karnaugh Map (K-MAP)
Penyederhanaan dengan Karnaugh map ada tiga bagian : Oktet, Kuad dan Pasangan. Diutamakan yang terbesar dahulu.
Contoh bentuk K – Map dengan berbagai jumlah inputan :


       K – Map dua masukan             K – Map tiga masukan

A
A
B


 B



A' B'
A' B
A B
A B'
C'




C'








K – Map empat masukan

A' B'
A' B
A B
A B'
C' D'




C' D'




C  D




C D'










Contoh soal untuk penyederhanaan K – Map :
Y = ABCD + ABC’D + ABCD’ + AB’CD + ABC’D’ + AB’CD’
Dit  :
a.                Buat tabel K – Map
b.                Cari Output Y nya
c.Buat rangkaian logikanya.

Jawab :
  a.




b.                Y = CD + AC



c.               







4.   Decoder
Decoder adalah rangkaian digital yang dapat mengubah bilangan biner menjadi bilangan desimal, dimana rangkaian ini akan menghasilkan output high (1) pada jalur yang sesuai dengan yang ditunjuk oleh selector.
Artinya input decoder merupakan bilangan biner, dan outputnya pun berbentuk biner. Namun akan menunjukkan bilangan decimal, yaitu menentukan ouput manakah yang aktif (Y0, Y1, Y2, atau Y3).
Gambar rangkaian decoder:
















Truth table untuk decoder diatas adalah :

A
B
Y3
Y2
Y1
Y0
0
0
0
0
0
1
0
1
0
0
1
0
1
0
0
1
0
0
1
1
1
0
0
0

4.1. Decoder Prioritas
A. Common Catoda
Adalah rangkaian seven segment yang kaki anodanya disatukan kemudian diberi tegangan dan kaki katodanya dihubungkan dengan ground.
Syarat : aktif jika kaki anoda high=1, on=1 dan off=0



Rangkaian Diskrit Common Catoda

B. Common Anoda
Adalah rangkaian seven segment yang kaki katodanya sebagai input dan kaki anoda disatukan kemudian diberi tegangan.



Syarat : aktif jika katoda low=0, on=0 dan off=1
Rangkaian Diskrit Common Anoda


Contoh :
Buatlah kata ’ L U P A.’ dengan menggunakan Decoder Prioritas common Anoda.

B
A
a
b
c
d
 e
f
g
h
L
0
0
1
1
1
0
0
0
1
0
U
0
1
0
0
0
0
0
0
1
0
P
1
0
0
0
1
1
0
0
0
0
A
1
1
0
0
0
0
0
1
0
0

a/g
A'
A
B'
1
1
B
0
0
b
A'
A
B'
1
1
 B
0
0
c
A'
A
B'
1
1
 B
0
0
d
A'
A
B'
1
1
B
0
0

                                                           a = B’             b = A’.B’             c = A’               d = A’.B                  

e/h
A'
A
  B'
0
0
B
0
0
f
A'
A
B'
0
0
B
0
1


                    
                   E/h= ground                    f = A.B


Gambar Rangkaiannya :



 
5.   Encoder



Encoder adalah rangkaian digital yang dapat mengubah bilangan desimal menjadi bilangan biner.
Gambar Rangkaian Encoder :



Truth Table untuk encoder diatas :


Y2
Y1
Y0
1
0
0
1
2
0
1
0
3
0
1
1
4
1
0
0
5
1
0
1
6
1
1
0
7
1
1
1

6.   Multiplexer
Multiplexer adalah suatu rangkaian digital yang mempunyai beberapa line input dan satu line output. Input ditentukan oleh selector. Rumus jumlah input = 2n.n menunjukkan jumlah selector.



Contoh rangkaian multiplexer dengan 2 selector dan 4 input.


7.   Demultiplexer
Demultiplexer  adalah suatu rangkaian digital yang hanya mempunyai 1 line input dan beberapa line output. Sama seperti multiplexer output ditentukan jumlah selector. Rumus jumlah output = 2n.

Gambar rangkaian demultiplexer :

True table untuk rangkaian demultiplexer diatas :

S0
S1
Y
0
0
Y0
0
1
Y1
1
0
Y2
1
1
Y3

8.   Komparator
Comparator adalah rangkaian digital yang berfungsi untuk membandingkan suatu signal baik AC atau DC dengan menggunakan referensi (besarnya perbedaan signal).
Comparator memiliki 3 kondisi, yaitu ; A > B, A < B, dan A = B.

Contoh : comparator 2 bit
A > B
          A1 = 1 dan B1 = 0 atau
          A1 = B1 dan A0 = 1 dan B0 = 0
         
Maka :         

A < B
          A1 = 0 dan B1 = 1 atau
          A1 = B1 dan A0 = 0 dan B0 = 1

          Maka :

A = B
          A1 = B1 dan A0 = B0

                   Maka :

Gambar Rangkaiannya :



















9.   Flip-Flop
Rangkaian logika dikelompokkan dalam 2 kelompok besar, yaitu rangkaian logika kombinasional dan rangkaian logika sekuensial. Bentuk dasar dari rangkaian logika kombinasional adalah gerbang logika dan rangkaian logika sekuensial adalah rangkaian flip-flop. Rangkaian logika sekuensial sangat bermanfaat karena karakteristik memorinya.
Flip-flop juga di sebut kancing, multivibrator bistabil atau biner, yaitu multivibrator yang keluarannya berupa suatu tegangan rendah (0) atau tinggi (1), selama belum ada masukan yang merubah keadaan tersebut. Rangkaian yang bersangkutan harus di drive oleh satu masukan yang di sebut pemicu (trigger), keadaan tersebut akan berubah kembali bila ada masukan pemicu lagi. Flip-flop di interkoneksikan untuk membentuk rangkaian logika sekuensial untuk penyimpanan, pewaktu, penghitung dan pengurutan (sequencing).

Berdasarkan cara penyimpanannya flip-flop dapat di golongkan atas :
§  RS flip-flop
§  JK flip-flop
§  D flip-flop
§  T flip-flop
§  Master-slave flip-flop

9.1. RS Flip-flop
Kebanyakan flip-flop dasar di sebut flip-flop RS. Flip-flop ini mempunyai 2 masukan yang di beri label dengan set (S) dan reset (R), flip-flop RS mempunyai masukan rendah aktif pada masukan S dan R. Tidak seperti gerbang logika, flip-flop mempuyai 2 komplementer, keluaran tersebut di beri label Q dan Q’, keluaran Q di anggap merupakan keluaran normal dan paling sering di gunakan. Keluaran lain Q merupakan merupakan komplemen dari keluaran Q dan di sebut juga keluaran komplementer. Pada kondisi normal, keluaran-keluaran ini selalu merupakan komplementer, dengan demikian bila Q = 1 maka Q’ = 0, atau bila Q = 0 maka Q’ = 1 .


 






RS Flip-flop dengan Gerbang NAND

Mode
Operasi
Masukan
Keluaran

S


R

Q

Q’
Larangan
0
0
1
1
Set
0
1
1
0
Reset
1
0
0
1
Tetap
1
1
Tidak berubah
Tabel RS Flip-flop

Gambar Flip – flop RS di rangkaikan dari dua gerbang NAND seperti di atas, karakteristik yang ada dari keluaran satu gerbang NAND ke masukan gerbang lainnya. Sama halnya dengan gerbang logika, tabel kebenaran merupakan penentuan operasi RS flip-flop ini. Baris 1 pada tabel kebenaran itu di sebut keadaan terlarang dalam arti bahwa keadaan tersebut memungkinkan kedua keluaran menjadi 1 atau tinggi, kondisi ini tidak di gunakan pada flip-flop RS. Baris 2 pada tabel tersebut menunjukkan kondisi set dari flip-flop. Di sini, level rendah atau logika 0 mengaktifkan masukan set (S). Logika 0 ini mengeset keluaran Q normal menjadi tinggi  atau 1, seperti di tunjukkan pada tabel kebenaran. Kemudian kondisi set ini akan terlihat bila menganalisa gambar rangkaian RS flip-flop dengan gerbang NAND. Logika 0 pada gerbang 1 membangkitkan 1 pada keluaran. Logika 1 ini di masukkan kembali ke gerbang 2, sekarang gerbang 2 mempunyai dua logika 1 yang di masukkan pada masukannya, sehingga mendorong keluaran menjadi 0. Maka keluaran Q’ menjadi 0 atau rendah, kemudian baris 3 pada tabel merupakan kondisi reset. Level rendah atau logika 0 mengaktifkan masukan reset tersebut. Hal ini akan mereset keluaran normal Q menjadi 0. Kemudian baris ke 4 dari tabel tersebut menunjukkan kondisi tak terbuka atau tetap dari flip-flop RS, keluaran masih tetap seperti keadaan sebelum terjadi kondisi tetap. Jadi tidak terdapat perubahan keluaran dari keadaan sebelumnya.
Bisa di simpulkan, bila tabel kebenaran di atas yang menunjukkan kondisi set, hal ini berarti pengesetan keluaran Q menjadi 1. Begitu pula, kondisi reset berarti di reset dan keluaran Q menjadi 0. Dengan demikian berarti kondisi operasi menunjuk pada keluaran normal dan bahwa keluaran komplementer (Q) adalah berlawanan dengan keluaran tersebut, oleh karena itu fungsi flip-flop yang memegang data sementara, maka flip-flop di sebut kancing RS.



Diagram Waktu RS Flip-Flop

9.2. JK Flip-Flop
Adalah rangkaian flip-flop yang mencacah banyaknya  positive edge trigger (pada saat tepi naik) atau negatif edge trigger (pada saat tepi turun). Piranti ini dapat di anggap sebagai flip-flop universal, flip-flop ini mempunyai 3 masukan sinkron yang di ilustrasikan dengan label J, K dan CK. Masukan J dan K merupakan masukan data dan masukan detak memindahkan data dari masukan ke keluaran. Terdapat juga 2 keluaran yakni keluaran normal (Q) dan komplementer (Q’).




Gambar JK Flip-Fop


Mode
Operasi
Masukan
Keluaran

CK

J

K

Q

Q’
NC
0
0
Tidak berubah
Reset
0
1
0
1
Set
1
0
1
0
Togel
1
1
Keadaan Berlawanan








Ket :
          NC      =  No change atau tetap pada nilai terakhirnya
Togel  =  Keadaan berlawanan dari input sebelumnya atau berpindah ke keadaan lawannya

Berdasarkan mode operasi pada tabel kebenaran di atas, baris ke 1 menunjukkan kondisi tetap atau kondisi terbuka karena masukan J dan K adalah rendah. Kondisi reset dari flip-flop di tunjukkan pada baris 2, bila J = 0 dan K = 1 serta pulsa detak datang pada masukan CK, maka flip-flop tersebut di reset   (Q = 0). Baris ke 3 menunjukkan kondisi set dari flip-flopJK, bila    J = 1 dan K = 0 serta terdapat pulsa detak, maka keleuaran Q di set menjadi 1. Kemudian baris 4 dalam kondisi yang sangat berguna dari flip-flop JK, kondisi ini di sebut posisi togel (Toggle), bila masukan J dan K keduanya sama-sama tinggi, maka keluaran akan berlawanan dengan keadan waktu pulsa tiba pada masukan CK.







Diagram waktu JK Flip-flop


10.    Counter
Counter adalah rangkaian logika yang dapat menghitung banyaknya detak pulsa dalam waktu yang tersedia. Counter merupakan rangkaian pengurut karena membutuhkan karakteristik memori dan yang memegang peranan adalah clock. Counter merupakan rangkaian sekuensial yang dirancang menggunakan rangkaian Flip – Flop.
10.1. Counter berdasarkan Clock-nya
A. Asynchronous Counter
     Ciri-ciri :    - Clocknya tidak serempak
                      - Datanya urut
                      - Prosesnya lambat
Contoh : Rancanglah sebuah rangkaian Asynchronous Mod 6
Display
A
B
C
0
0
0
0
1
0
0
1
2
0
1
0
3
0
1
1
4
1
0
0
5
1
0
1
6
1
1
0

Pada mod 6, ouput dari A harus diberi inveter agar ketika counter sampai pada biner 110, rangkaian akan mereset ulang  ke nilai awal pada CBA, yaitu 000. Untuk mereset ke awal maka digunakan gerbang NAND karena aktif low.
Gambar rangkaiannya :



B. Synchronous Counter
                      Ciri-ciri :    - Cloknya serempak
                                      - Datanya tidak urut
                                      - Prosesnya cepat
Tabel Eksitasi
Qn
Qn+1
J
K
0
0
0
X
0
1
1
X
 1
0
X
1
1
1
X
0






X= don’t care.


                      Contoh : Rancanglah rangkaian yang mengcounter 0,1,2,5,7
Tabel Eksitasi

C
B
A
Jc
Kc
Jb
Kb
Ja
Ka
0
0
0
0
0
X
0
X
1
X
1
0
0
1
0
X
1
X
X
1
2
0
1
0
1
X
X
1
1
X
5
1
0
1
X
0
1
X
X
0
7
1
1
1
X
1
X
1
X
1

Sederhanakan menggunakan K-Map
Jc
A’B’
A’B
AB
AB’
C’
0
1
X
X
C
X
X
X
X
Kc
A’B’
A’B
AB
AB’
C’
X
X
X
X
C
X
X
1
0
                Jc = B                                         Kc = B

Kb
A’B’
A’B
AB
AB’
C’
X
1
X
X
C
X
X
1
X
Jb
A’B’
A’B
AB
AB’
C’
0
X
X
1
C
X
X
X
1




                                          Jb = A                                                 Kb = 1 (Vcc)




Ja
A’B’
A’B
AB
AB’
C’
1
1
X
X
C
X
X
X
X
Ka
A’B’
A’B
AB
AB’
C’
X
X
X
1
C
X
X
1
0




             Ja = 1(Vcc)                                    Ka = C’ + B                             








Gambar rangkaiannya :


                     
10.2. Counter berdasarkan cacahannya
          A. Up Counter
          B. Down Counter
          C. Up/down Counter

Tidak ada komentar:

Posting Komentar